Menyemai Benih Nepenthes

16 03 2008

Nepenthes (Kantong Semar), layaknya makhluk hidup pada umumnya, pastilah juga memiliki “pemikirkan” untuk berkembang biak, memiliki keturunan. Di alam, tanaman umumnya berkembang-biak secara generatif (vegetatif juga sih), melalui proses persilangan (polinasi), menghasilkan buah dan biji. Nepenthes memiliki buah yang berbentuk lonjong, dengan susunan memutar & setiap buah mampu memiliki puluhan sampai ratusan biji.

Berikut adalah gambar buah & biji Nepenthes :

t2-11-12.jpg

foto by trichocarpa

5-hasil-panen.jpg

foto by KTKI

Foto buah matang di pohon :

1-ngracillis.jpg

foto by KTKI

Buah yang telah matang, umumnya akan “mletek” (terbuka) dan biji2 yang ada didalamnya akan terbang menyebar terbawa angin (karena biji berbentuk pipih dan sangat ringan). Jika biji mendarat di tempat yang tepat, tentunya akan dapat tumbuh dan berkembang menjadi tanaman yang bagus. Adapun beberapa syarat yang mendukung biji nepenthes agar dapat tumbuh baik, diantaranya adalah sebagai berikut :
- kelembaban yang tepat
- ketersediaan air yang mencukupi (tidak becek / menggenangi media tanam)
- sinar matahari yang mencukupi (tidak terik / terlalu teduh)
- sirkulasi udara yang baik
- kualitas air dan media
- ketersediaan hormon pertumbuhan
- pH (keasaman media tanam) yang tepat
- fungi (jamur) yang tidak mengganggu dan tentunya..
- takdir untuk tumbuh sehat

Apabila anda berniat akan menyemai benih nepenthes, harap untuk memperhatikan faktor2 tersebut disamping mengetahui habitat asal spesies tersebut serta kualitas biji. Penting karena :
1. biji memiliki waktu “kadaluarsa” tertentu untuk tumbuh, ada biji yang harus langsung ditanam, ada biji yang bisa disimpan lama. Anda harus mengetahui kesegaran biji untuk menghindari kerugian2 tertentu yang bisa diakibatkan masa kadaluarsa ini.
2. biji nepenthes harus ditanam dengan kondisi ideal, sesuai dengan jenis dan tempat tumbuhnya. Sehingga perlakuan menyemai biji dataran rendah dengan dataran tinggi ataupun dataran menengah bisa berbeda2.

Dari beberapa sumber informasi dan telah berhasil saya uji cobakan, terdapat beberapa trik yang bisa diterapkan dalam menanam / menyemai benih nepenthes. Yang telah saya cobakan adalah cara semai yang dipublikasikan oleh bpk (nickname) rajah (dari forum tanaman buas). Berikut rangkuman dari pengalaman menyemai benih nepenthes yang beliau publikasikan (dan sedikit saya modifikasi) :

—————————————————
Untuk menyemai biji dan membesarkan nepenthes yang baru berkecambah, beliau menggunakan rak susun plastik bekas (tempat menaruh piring gelas dsb)

419841759_36a6d9405e.jpg

Total ada 4 tingkat rak (di bagian sisi rak ada lubang-lubang ventilasi). Di setiap tingkat dipasang lampu neon 10 watt dengan jarak sekitar 15cm ke permukaan media (kokopit + sekam bakar).Lampu dinyalakan selama 24 jam non-stop. Lampu neon bersifat dingin, sehingga tidak akan memanaskan dan mengeringkan media dibandingkan matahari.

Untuk menjaga kelembaban di sekitar media dan supaya lebih hemat air dan media, pot semai diisi hanya setengah penuh media tanam dan air siraman dibiarkan tergenang sekitar 1 cm di atas bak plastik (tempat pot2 semai diletakkan). Pot semai yang digunakan adalah gelas plastik (bekas air mineral dsb) yang bagian bawahnya dibolongi.

Pot semai tidak ditutup dengan plastik (jadi harus selalu disiram pagi dan sore). Keuntungan cara semai ini, suhu dan intensitas cahaya bisa dipertahankan stabil karena di dalam ruangan, namun kerugiannya agak boros listrik.

Masing-masing rak bisa menampung 29 gelas bekas air mineral, jadi keseluruhan 116 gelas. Satu gelas bisa diisi 4 helai biji tanpa menyebabkan nantinya akar-akar mereka saling melilit. Lebih dari itu pemindahan ke pot individual akan sulit dan kemungkinan mati lebih banyak. Jadi kapasitas biji yang bisa disemai seluruhnya 4 x 116 = 464 biji.

419870953_584c737ef9.jpg

Supaya biji-biji nggak berpindah tempat, pakai sprinkler halus dan arah siraman tegak lurus terhadap garis permukaan media.

Beliau menyemai benih Nepenthes viking (biji dipetik di Thailand 27 Februari 2007, mulai disemai tgl 10 Maret 2007).

Kontainer plastik yang satu lagi beliau namakan “gelas agar-agar”, modelnya lebih pendek tapi diameter lebih besar dari gelas air mineral, bisa menampung lebih banyak biji (beli di bagian perlengkapan pesta di Supermaket).
—————————————————-

Dari pengalaman tersebut, dapat disimpulkan kebutuhan peralatan yang anda butuhkan adalah sebagai berikut :
1- lampu neon jenis daylight contoh P**lips TLD 10W TL tube, berfungsi sebagai pengganti matahari, lampu ini tidak menimbulkan panas dan hemat energi
2- wadah untuk menyemai benih, bisa berupa gelas plastik bekas yang bagian bawahnya dibolongi atau pot kecil dsb…
3- wadah untuk menampung seluruh wadah semai pada poin 2, contoh bak plastik besar atau aquarium bekas (bisa menampung air)
4- media tanam yang sesuai dengan “feeling” anda, disarankan menggunakan sekam bakar + cocopeat halus
5- vitamin B1 seperti Liq*in*x dan obat anti jamur seperti Conf*d*r
6- spray yang mampu membuat kabut

kalau saya menggunakan :
- aquarium bekas sebagai sarana penampung pot2 semai biji, untuk memudahkan proses perendaman
- lampu neon tdl, dinyalakan 24 jam (ga mahal kok), untuk mengganti sinar matahari
- pot semai memakai wadah plastik seperti tempat makan yang dibolongi bagian bawahnya
- media tanam 50% sekam bakar + 50% cocpeat halus yang sudah disterilkan dengan obat anti jamur

Cara semainya, sang biji disebar (lebih baik ditata, untuk memudahkan pemindahan agar tidak merusak akar) dan tidak di timbun. Biji hanya diletakkan diatas media, kemudian di-spray dengan maksud biji akan memiliki posisi yang ideal & tidak berubah-ubah. Biji dispray halus setiap hari dengan vit B-1 agar memperbesar kemungkinan tumbuhnya. Jika perlu, spraykan juga obat anti jamur ke media tanam agarsupaya benih tidak mati. Ketinggian air di aquarium selalu dijaga agar tetap ada (1cm) & bersih, karena biasanya ada jentik nyamuk, berbahaya untuk anda (bukan untuk nepi). Air di aquarium selain berfungsi sebagai sumber air nepenthes, juga sebagai peningkat kelembaban area tanam (sangat penting). Biji yang bagus paling tidak satu bulan sudah berkecambah (tergantung jenisnya), jadi jika anda ingin menanam nepenthes kuncinya ada banyak, tapi yang paling penting adalah sabar dan telaten.

Berikut gambar proses penyemaian saya :





Penyebaran Spesies Nepenthes di Dunia

10 03 2008

Nepenthes sejatinya hanya digolongkan menjadi 2 jenis, yakni berdasarkan lokasi tumbuhnya. Ada Nepenthes dataran rendah, dataran tinggi ataupun yang toleran terhadap keduanya. Karena itu table sebaran juga disertai dengan ketinggian lokasi hidupnya, hal ini berguna untuk perawatan yang harus diberikan kepada Nepenthes tersebut. Mengapa ? Karena perlakuan Nepenthes Dataran Rendah tentu berbeda dengan Nepenthes Dataran Tinggi. Hal ini berhubungan erat dengan suhu, kelembaban dan media tanam tanaman.

TABEL PENYEBARAN SPESIES NEPENTHES DI DUNIA

No. Nama Penyebaran Lokasi Ketinggian tempat
1 N.adnata Sumatra 700-1000 m
2 N.adrianii* Jawa 1000-2000 m
3 N.alata Filipina 400-2400 m
4 N.albomarginata Sumatra, Kalimantan, Semenanjung Malaya 0-1100 m
5 N.ampullaria Sumatra, Kalimantan, Semenanjung Malaya, Papua 0-2100 m
6 N.anamensis** Thailand, Kamboja, Vietnam
7 N.angasanensis Sumatra 2200-2800 m
8 N.argentii Filipina 1400 m
9 N.aristolochioides Sumatra 2000-2200 m
10 N.bellii Filipina 250-800 m
11 N.benstonei Semenanjung Malaya 450-600 m
12 N.bicalcarata Kalimantan 0-950 m
13 N.bongso Sumatra 1000-2700 m
14 N.boschiana Kalimantan 780-1880 m
15 N.burbidgeae Sabah 1200-2250 m
16 N.burkei Filipina 1300-1680 m
17 N.campanulata Kalimantan 300 m
18 N.carunculata** Sumatra 1000-2700 m
19 N.clipeata Kalimantan 600-800 m
20 N.copelandii** Filipina 700-1200 m
21 N.danseri Papua 0-300 m
22 N.deaniana Filipina 1300-1500 m
23 N.densiflora Sumatra 1700-3200 m
24 N.diatas Sumatra 2400-2600 m
25 N.distillatoria Sri Lanka 0-800 m
26 N.dubia Sumatra 100-2500 m
27 N.edwardsiana Sabah 1500-2700 m
28 N.ephippiata Kalimantan 1000-1900 m
29 N.eustachya Sumatra 0-1600 m
30 N.eymae Sulawesi 1500-2000 m
31 N.faizaliana Sarawak 600-1600 m
32 N.fusca Sabah 800-2500 m
33 N.glabrata Sulawesi 1600-2000 m
34 N.glandulifera Kalimantan 1200-1600 m
35 N.globosa** Thailand Dataran rendah
36 N.gracilis Sumatra, Kalimantan, Semenanjung Malaya, Sulawesi 0-800m
37 N.gracillima Semenanjung Malaya 1300-2100m
38 N.gymnamphora** Jawa 100-2750m
39 N.hamata Sulawesi 1400-2500 m
40 N.hirsuta Kalimantan 200-1100m
41 N.hispida Kalimantan 100-800m
42 N.hurreliana Kalimantan Dataran tinggi
43 N.inermis Sumatra 500-2600m
44 N.insignis Papua 80-850
45 N.izumiae Sumatra 800-2400 m
46 N.jacquelinae Sumatra 700-2200m
47 N.jamban* Sumatra Dataran tinggi
48 N.kampotiana** Kamboja
49 N.khasiana India 1000 m
50 N.klossii Papua 1000-2000m
51 N.lamii Papua 1460-3520m
52 N.lavicola Sumatra 2000-2600m
53 N.leptochila Kalimantan Dataran tinggi
54 N.lingulata* Sumatra Dataran tinggi
55 N.longifolia Sumatra 300-1100m
56 N.lowii Sabah 1600-2600m
57 N.macfarlanei Semenanjung Malaya 1000-2150m
58 N.macrophylla Sabah 2200-2400m
59 N.macrovulgaris Kalimantan 300-1200m
60 N.madagascariensis Madagaskar 300 m?
61 N.mapuluensis Kalimantan 700-800 m
62 N.masoalensis Madagaskar 30-400 m
63 N.maxima Sulawesi, Maluku, Papua 600-2500 m
64 N.merilliana Filipina 0-1700 m
65 N.mikei Sumatra 1100-2500 m
66 N.mindanaoensis** Filipina Dataran rendah
67 N.mira Filipina 1800 m
68 N.mirabilis Cina, Asean, Palau, Australia 0-1500m
69 N.mollis Kalimantan 1800m
70 N.muluensis Sarawak 1750-2400 m
71 N.murudiensis Sarawak 2200-2500m
72 N.neoguineensis Papua 0-1400 m
73 N.northiana Sarawak 40-800 m
74 N.ovata Sumatra 1700-2100 m
75 N.paniculata Papua 1460 m
76 N.papuana Papua 250-900 m
77 N.pectinata Sumatra 950-2750 m
78 N.pervillei Seychelles 500-800 m
79 N.petiolata Filipina 1500 m
80 N.philippinensis Filipina 25-520 m
81 N.pilosa Kalimantan 000-1800 m
82 N.rafflesiana Sumatra, Kalimantan, Semenanjung Malaya 0-1000 m
83 N.rajah Sabah 1500-2650 m
84 N.ramispina Semenanjung Malaya 900-2000 m
85 N.reinwardtiana Sumatra, Kalimantan 0-2100 m
86 N.rhombicaulis Sumatra 1700-1900 m
87 N.rigidifolia Sumatra 100-1500 m
88 N.rowanae Australia 0-10 m
89 N.sanguinea Semenanjung Malaya 300-1800 m
90 N.sibuyanensis Filipina 1350-1800 m
91 N.singalana Sumatra 1900-2800 m
92 N.spathulata Sumatra 1100-2900 m
93 N.spectabilis Sumatra 1450-2000 m
94 N.stenophylla Kalimantan 400-2600 m
95 N.sumatrana Sumatra 0-1000 m
96 N.talangensis Sumatra 1800-2500 m
97 N.tentaculata Kalimantan, Sulawesi 800-2550 m
98 N.tenuis Sumatra 1000 m
99 N.thorelii Thailand 0-200 m
100 N.tobaica Sumatra 950-2750 m
101 N.tomoriana Sulawesi 0-400 m
102 N.treubiana Papua 0-500 m
103 N.truncata Filipina 230-600 m
104 N.veitchii Kalimantan 0-1800 m
105 N.ventricosa Filipina 1200-1500 m
106 N.viellardii Kaledonia Baru 30-800 m
107 N.villosa Sabah 2400-3200 m
108 N.vogelii Sarawak 1000-1400 m

Diklasifikasikan oleh ma_suska, diolah dari berbagai sumber

Keterangan : * = dalam proses publikasi
** = beberapa ahli terdapat perbedaan pendapat terhadap spesies tertentu

Sumber Artikel :

Bulletin KOMUNITAS TANAMAN KARNIVORA INDONESIA
Sumber informasi untuk pecinta tanaman karnivora di Indonesia
Edisi No. 2: Septemberi dan Oktober 2006.





Save Nepenthes

10 03 2008

Nepenthes, adalah tanaman unik yang sebagian besar jenis dan habitatnya berada di Indonesia. Namun dari sekian banyak jenisnya, hanya sedikit dari ratusan juta masyarakat Indonesia yang mengetahui keberadaan dan eksistensi tanaman ini di bumi Indonesia. Terlihat menyebalkan memang, namun jika dicermati ada keuntungan dan pasti ada pula kerugian yang bisa disimpulkan. Dapat di bilang “menguntungkan” karena, dengan minimnya publikasi, maka tanaman ini setidaknya mampu selamat dari neraka yang bernama eksploitasi, namun dibilang “merugikan” karena dengan ketidak tahuan akan pentingnya menjaga kelestarian spesies ini dan dengan pembangunan disana-sini yang tidak mengenal toleransi, dapat menyebabkan kepunahan dari spesies tanaman unik ini dari bumi Indonesia maupun dunia.

Akhir2 ini seiring dengan gencarnya pemberitaan media massa yang “menghebohkan” mengenai tanaman hias (yang terkadang melebih-lebihkan) membuat animo rakyat Indonesia akan dahaga tanaman hias menjadi sedikit buas. Hutan2 yang asri ramai dirambah manusia2 kelaparan yang dengan beringasnya mengambil bermacam jenis “emas-hijau” secara membabi buta tanpa memperdulikan keseimbangan ekosistem alam dan hukum negara maupun hukum internasional yang berlaku.

Nepenthes termasuk salah satu emas-hijau tersebut. Meskipun pemerintah dan dunia telah aktif melindungi spesies tanaman ini, masih banyak saja ditemui bekas2 penjarahan hutan yang dilakukan dengan buas, bahkan banyak dengan mudah ditemui penjual tanaman cabutan ini. Biasanya penjarah hutan menjual tanaman ini (tanpa akar/dengan tanahnya) dengan harga murah kepada pihak ke-3 (tidak sampai 20rb per tanaman). kemudian oknum pihak ke 3 menjual dengan harga fantastis (Ratusan sampai Jutaan Rupiah), padahal tanaman cabutan seperti itu tidak akan tahan hidup sampai seminggu jika tanpa perlakuan khusus. Miris…

Jika anda seorang bisnismen emas-hijau ataupun penghobi, tolong selamatkan Nepenthes. Menyelamatkan bukan berarti anda tidak boleh memeliharanya, menyelamatkan dapat pula diartikan dengan membudidayakan atau bahkan memperjualbelikannya. Namun yang diperjualbelikan bukanlah yang ilegal (dari alam), tapi yang merupakan hasil budidaya. Jika anda ingin mengambil dari alam, mengapa anda tidak mengambil bijinya saja, toh anda akan mendapatkan tanaman dengan jumlah yang amat besar (ratusan bahkan ribuan) dan bahkan jika berhasil tumbuh, tanaman itu akan sangat toleran dengan kondisi alam sekitar. Harap diperhatikan, Nepenthes merupakan tanaman yang sangat susah dirawat oleh orang awam, karena sejatinya nepenthes merupakan tanaman yang sangat bergantung pada alam. Nepenthes sangat menyukai kondisi tumbuh yang ideal, kelembaban, media, hara, sinar matahari bahkan lokasi tumbuh dari ketinggian lautpun dipertanyakan oleh tanaman ini, jika dia tidak mendapatkan apa yang ia inginkan, jangan harap dia akan mau tumbuh atau hidup sekalipun.

Teknologi juga telah berkembang pesat, berbagai cara memperbanyak tanaman juga telah diperkenalkan, contohnya saja dengan cara setek ataupun cangkok. Nepenthes dapat dibudidayakan dengan cara2 tersebut. Jika anda memang betul2 menginginkan nepenthes alam, mengapa tidak anda setek ataupun cangkok saja, ketimbang mengambil seluruh tanaman dari alamnya? ingat, jangan menjadi buta karena perdaya uang…

Anda tahu kultur jaringan? yup, dengan teknologi ini pun andapun bisa mendapatkan banyaaaak sekali tanaman. Tanaman apa sih yang tidak bisa diperbanyak dengan teknologi ini? Nepenthes telah terbukti mampu diperbanyak dengan cara budidaya ini. Andapun juga akan mendapatkan tanaman yang toleran dan mudah tumbuh dengan teknologi ini (jika tanaman yang digunakan sebagai sampel adalah tanaman yang sudah “jinak”)

Jika anda memang ingin cepat2 memelihara nepenthes yang bagus (udah kebelet), ingin setekan / cangkokan alam tapi di hutan ga nemu, ingin bijinya tapi pas ditanam ga tumbuh semua, ingin beli yang cabutan takut rugi dan dosa, ingin kultur jaringan tapi gada biaya, ya solusinya beli aja. Di Indonesia tercinta sudah banyak yang menyediakan Nepenthes berkualitas yang legal, jika ingin tahu belinya dimana ya coba anda cari sendiri di internet ataupun di buku2 bertemakan nepenthes yang sudah banyak beredar. Saran saya sih jika anda memang pecinta berat tanaman hias, kenapa tidak bergabung di forum2, milis ataupun komunitas tanaman buas ini?

Sedikit promosi, jika anda benar2 ingin mengetahui seluk beluk dunia tanaman buas atau bahkan ingin barter, beli atau jual, gabung saja di tanamanbuas.proboards84.com, disini dibahas tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan tanaman karnivora seperti Nepenthes, Saracaenia, Venus Fly Trap, Pinguicula dsb… Beberapa pengurus KTKI (Komunitas Tanaman Karnivora Indonesia) pun sering berbagi pengalaman disini, lha wong moderatornya pak Suska (Ketua KTKI), jadi jika anda ingin menambah pengetahuan, berbagi ilmu, melihat foto2 eksotik, berbisnis atau menjadi anggota KTKI, silahkan daftar saja, mumpung cuma baya biaya internet…

Save Nepenthes, Save our Nation, Save the World
Jika bukan anda, siapa lagi?





Nepenthes sp.

10 03 2008

Nepenthes, adalah tanaman berkantong yang menggunakan kantongya sebagai alat utama penyerap nutrisi. Kantong, tepatnya serbuk manis (semacam nektar) disekitar bibir kantong digunakan untuk menarik serangga ataupun hewan2 yang berseliweran di habitat sekitar nepenthes agar mau mampir dan tercebur ke kantong2 mereka. Hewan2 yang tercebur tidak membuat kantung membusuk, namun malah dicerna oleh tanaman. Hal itu disebabkan karena kantong memiliki sistem layaknya lambung manusia, setelah hewan tercebur, enzim2 pencerna disebarkan dan segera mencerna mangsa. Sari hewan tersebut yang digunakan nepenthes untuk tumbuh subur walaupun area hidupnya sangat miskin unsur hara, karena itulah Nepenthes digolongkan sebagai tanaman pemakan serangga atau tanaman karnivora.

Dari ratusan jenis Nepenthes (103 jenis teridentifikasi), sekitar 65% jenis2-nya tersebar luas di Indonesia (betapa kayanya Indonesia) namun tak banyak orang Indonesia mengetahui hal ini. Nepenthes memiliki banyak sebutan tradisional, di Indonesia sendiri Nepenthes biasa disebut Kantong Semar, namun sebutan di tiap provinsi habitat Nepenthes tumbuh pun bermacam-macam, terompet gunung, tempayan setan, kendi kera, katidiang baruak, kantong bunting, entuyut, tarukut-en, kantong kera, lonceng gunung, kantong teko, kendi monyet, kuran2, ketakong manjang, tahul2, calong baruk, katupat baruk, galu2 antu, ketakong babi, kanjong baruk, kobe2, adalah sebagian dari nama2 tradisional Nepenthes. Jadi jangan heran jika anda mendapat jawaban tidak tahu saat menanyakan Nepenthes / Kantong Semar pada penjual tanaman hias. Mungkinkah karena beragamnya penamaan itu yang menyebabkan Nepenthes tidak begitu familiar di sebagian besar pecinta tanaman di Indonesia.

Sejarahnya, Nepenthes pertama kali ditemukan di Madagaskar, di pulau kecil dengan kekayaan hayati terunik didunia itu Nepenthes pertama kali dideskripsikan di dunia. Gubernur Madagascar kala itu (abad 16, sekitar tahun 1658), memberi nama Amramitico (sekarang dikenal dengan N. madagascariensis). Dua Puluh tahun berselang, ribuan kilo dari Madagascar (Srilanka), H.N. Grimm menemukan dan menamakan Nepenthes ke-2 dunia, N. Distillatoria yang merupakan Nepenthes endemik Srilanka.

Dahulu kala, Rumphius menggolongkan segala Jenis kantong semar yang teridentifiksai pada keluarga Cantherifera. Rumphius memberikan penamaan tersebut berdasarkan kantung semar yang dilihatnya di Maluku, Cantherifera mirabilis adalah nama yang ia berikan kala itu. Namun karena laporan Rumphius tentang penamaan keluarga Kantong Semar ini terlambat sampai ke Eropa (Kapal karam, buta & perang), 40 tahun kemudian (1737) Linneaus memberikan nama Nepenthes sebagai nama resmi keluarga Kantong Semar.

Walau banyaknya spesies Nepenthes, area sebarannya tidaklah begitu luas, Nepenthes hanya (baru) ditemukan disekitar wilayah khatulistiwa saja. Sebaran Nepenthes terkonsentrasi di wilayah Asia, terutama Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Filipina, IndoChina), selebihnya di Madagascar, Seychelles, Srilanka, Andaman & Assam. Jadi wajar saja jika Nepenthes termasuk spesies yang rawan punah, kenapa? karena spesies terbanyaknya berada di Indonesia yang kebanyakan masyarakatnya tidak “melek” pada pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dan kekayaan plasma nutfah alam.

Nepenthes kala ini telah menjadi industri florikultura di negara2 maju seperti Eropa dan Amerika, bahkan Nepenthes mampu menjadi komoditi yang sangat menguntungkan bagi negara2 tersebut. Melalui teknik perbanyakan kultur jaringan, Nepenthes diperbanyak dan diperdagangkan secara legal (Padahal jenis yang mereka perbanyak adalah Nepenthes dari Indonesia). Seandainya pemerintah memiliki inisiatif menambang emas-hijau ini, tentunya dapat membantu menyejahterakan rakyat. Tapi mengapa Indonesia yang menjadi gudangnya Nepenthes hanya bisa menghabiskan stok yang disediakan alam padahal itu sangat merugikan sedangkan orang di luar negri malah membuat gudang Nepenthes dari satu tanaman yang mereka beli dari Indonesia?

dirangkum dari Trubus Infokit Nepenthes