Nepenthes, adalah tanaman berkantong yang menggunakan kantongya sebagai alat utama penyerap nutrisi. Kantong, tepatnya serbuk manis (semacam nektar) disekitar bibir kantong digunakan untuk menarik serangga ataupun hewan2 yang berseliweran di habitat sekitar nepenthes agar mau mampir dan tercebur ke kantong2 mereka. Hewan2 yang tercebur tidak membuat kantung membusuk, namun malah dicerna oleh tanaman. Hal itu disebabkan karena kantong memiliki sistem layaknya lambung manusia, setelah hewan tercebur, enzim2 pencerna disebarkan dan segera mencerna mangsa. Sari hewan tersebut yang digunakan nepenthes untuk tumbuh subur walaupun area hidupnya sangat miskin unsur hara, karena itulah Nepenthes digolongkan sebagai tanaman pemakan serangga atau tanaman karnivora.
Dari ratusan jenis Nepenthes (103 jenis teridentifikasi), sekitar 65% jenis2-nya tersebar luas di Indonesia (betapa kayanya Indonesia) namun tak banyak orang Indonesia mengetahui hal ini. Nepenthes memiliki banyak sebutan tradisional, di Indonesia sendiri Nepenthes biasa disebut Kantong Semar, namun sebutan di tiap provinsi habitat Nepenthes tumbuh pun bermacam-macam, terompet gunung, tempayan setan, kendi kera, katidiang baruak, kantong bunting, entuyut, tarukut-en, kantong kera, lonceng gunung, kantong teko, kendi monyet, kuran2, ketakong manjang, tahul2, calong baruk, katupat baruk, galu2 antu, ketakong babi, kanjong baruk, kobe2, adalah sebagian dari nama2 tradisional Nepenthes. Jadi jangan heran jika anda mendapat jawaban tidak tahu saat menanyakan Nepenthes / Kantong Semar pada penjual tanaman hias. Mungkinkah karena beragamnya penamaan itu yang menyebabkan Nepenthes tidak begitu familiar di sebagian besar pecinta tanaman di Indonesia.
Sejarahnya, Nepenthes pertama kali ditemukan di Madagaskar, di pulau kecil dengan kekayaan hayati terunik didunia itu Nepenthes pertama kali dideskripsikan di dunia. Gubernur Madagascar kala itu (abad 16, sekitar tahun 1658), memberi nama Amramitico (sekarang dikenal dengan N. madagascariensis). Dua Puluh tahun berselang, ribuan kilo dari Madagascar (Srilanka), H.N. Grimm menemukan dan menamakan Nepenthes ke-2 dunia, N. Distillatoria yang merupakan Nepenthes endemik Srilanka.
Dahulu kala, Rumphius menggolongkan segala Jenis kantong semar yang teridentifiksai pada keluarga Cantherifera. Rumphius memberikan penamaan tersebut berdasarkan kantung semar yang dilihatnya di Maluku, Cantherifera mirabilis adalah nama yang ia berikan kala itu. Namun karena laporan Rumphius tentang penamaan keluarga Kantong Semar ini terlambat sampai ke Eropa (Kapal karam, buta & perang), 40 tahun kemudian (1737) Linneaus memberikan nama Nepenthes sebagai nama resmi keluarga Kantong Semar.
Walau banyaknya spesies Nepenthes, area sebarannya tidaklah begitu luas, Nepenthes hanya (baru) ditemukan disekitar wilayah khatulistiwa saja. Sebaran Nepenthes terkonsentrasi di wilayah Asia, terutama Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Filipina, IndoChina), selebihnya di Madagascar, Seychelles, Srilanka, Andaman & Assam. Jadi wajar saja jika Nepenthes termasuk spesies yang rawan punah, kenapa? karena spesies terbanyaknya berada di Indonesia yang kebanyakan masyarakatnya tidak “melek” pada pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dan kekayaan plasma nutfah alam.
Nepenthes kala ini telah menjadi industri florikultura di negara2 maju seperti Eropa dan Amerika, bahkan Nepenthes mampu menjadi komoditi yang sangat menguntungkan bagi negara2 tersebut. Melalui teknik perbanyakan kultur jaringan, Nepenthes diperbanyak dan diperdagangkan secara legal (Padahal jenis yang mereka perbanyak adalah Nepenthes dari Indonesia). Seandainya pemerintah memiliki inisiatif menambang emas-hijau ini, tentunya dapat membantu menyejahterakan rakyat. Tapi mengapa Indonesia yang menjadi gudangnya Nepenthes hanya bisa menghabiskan stok yang disediakan alam padahal itu sangat merugikan sedangkan orang di luar negri malah membuat gudang Nepenthes dari satu tanaman yang mereka beli dari Indonesia?
dirangkum dari Trubus Infokit Nepenthes








